TRENGGALEK - Mondes.co.id | Target Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Trenggalek tahun 2027 sektor pariwisata berpotensi tidak tercapai.
Hal tersebut dipicu oleh sejumlah faktor, di antaranya beberapa rencana pembangunan infrastruktur di destinasi wisata.
Pasalnya, kegiatan fisik dimaksud sangat mungkin akan mempengaruhi jumlah wisawatan yang berkunjung.
Karena ketika proyek berjalan, akan menimbulkan ketidaknyamanan bagi pengunjung.
Sebagai contoh, revitalisasi kawasan wisata Pantai Pasir Putih, Kecamatan Watulimo yang menjadi salah satu fokus utama.
Dengan rentang waktu pengerjaan hingga enam bulan, diyakini bisa mengurangi pemasukan disisi retribusi.
"Selama proses pembangunan, penutupan atau pembatasan akses pengunjung berpotensi mengurangi pendapatan retribusi," sebut Plt Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Trenggalek, Tony Widianto kepada Mondes.co.id, Sabtu, 7 November 2026.
Menurut dia, target Rp9,4 miliar untuk tahun 2027 sangat potensial mengalami dinamika.
Penuruan pendapatan otomatis mempengaruhi capaian yang diraih.
Untuk itulah, pihak Disparbud Trenggalek mengusulkan kepada DPRD agar dilakukan penyesuaian-penyesuaian.
Namun, para wakil rakyat belum menyetujui usulan tersebut (penurunan target).
Banggar DPRD justru meminta dilakukan penghitung ulang segala potensi pemasukan lain secara terperinci.
"Dinas juga perlu menyiapkan strategi pengelolaan kunjungan selama proyek berlangsung," imbuhnya
Kemudian, masih kata Tony, DPRD juga ikut mendorong mengoptimalkan destinasi wisata lain di sekitar kawasan Watulimo.
Melalui upaya mengarahkan pengunjung memilih opsi alternatif, antara lain seperti Pantai Prigi, Margomulyo, dan Karanggondang.
Serta penambahan atraksi wisata berskala regional maupun nasional pada titik-titik itu.
"Melalui opsi tersebut, diharapkan mampu menarik wisatawan sekaligus menjaga perputaran ekonomi sektor pariwisata," ujar Plt Kadis Parbud.
Tak kalah penting, lanjut dia, Disparbud dinilai perlu menyusun strategi pencapaian target PAD secara terukur.
Tidak cukup hanya mengandalkan target (PAD) tanpa memperhitungkan aspek-aspek gangguan yang muncul.
Mampu merumuskan langkah dalam menjaga penerimaan daerah di tengah rencana pembangunan.
Belum lagi, dampak ikutan kepada pelaku usaha di lingkungan pariwisata.
“Saat pelaksanaan pembangunan berbagai kemungkinan harus benar-benar diperhitungkan secara cermat. Semua dihitung dengan detail," pungkasnya.
